Senin, 07 September 2026
Hot

Erupsi Anak Krakatau Sebabkan Hujan Abu, Warga Serang Mengeluh Mata Perih

Hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu malam. Kondisi ini menyebabkan mata perih dan mengganggu mobilitas serta aktivitas belajar mengajar warga.

Article ad before first paragraph

Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIANEXPRES, BANTEN– Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terasa di kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten,  Kondisi ini menyebabkan warga mengeluhkan mata perih dan sangat mengganggu berbagai aktivitas, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah, Minggu (6/9/2026).

Sanan, seorang warga berusia 42 tahun dari Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, menyampaikan bahwa paparan abu vulkanik sudah menebal di sekitar permukiman sejak pukul 17.00 WIB.

“Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai,” katanya.

Article ad in the middle of article

Sanan menambahkan, suara gemuruh dan getaran yang terus-menerus sejak Jumat (4/9) malam mendorongnya untuk mendatangi Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran. Ia ingin memastikan kondisi keamanan gunung tersebut secara langsung.

Aktivitas Belajar Mengajar Terhambat

Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh Ajat Sudrajat, Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka. Ajat juga sengaja datang ke Pos PGA Anak Krakatau pada malam yang sama.

Kedatangannya bertujuan untuk memperoleh informasi valid mengenai status dan kondisi gunung. Informasi ini nantinya akan disampaikannya kepada para siswa dan wali murid di sekolah.

Ajat membenarkan bahwa sebaran debu vulkanik tersebut sangat mengganggu kenyamanan. Selain itu, debu juga dapat berdampak pada kesehatan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.

“Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk,” ujarnya.

Warga berharap ada solusi atau imbauan yang jelas agar aktivitas sehari-hari tidak semakin terganggu oleh dampak erupsi ini.

Article ad after last paragraph