BANTEN, HARIANEXPRESS – Materi khutbah Jum’at ini mengingatkan jamaah agar waspada terhadap penyakit hati yang menghambat ketenangan batin, terutama sifat sombong dan dengki, Jum’at (8/5/2026).
Khotib menjelaskan bahwa penyakit hati seperti hasad atau dengki kini semakin mudah terpicu akibat kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di dunia maya. Sifat hasad ini sangat berbahaya karena pada hakikatnya seseorang yang memiliki rasa iri sedang memprotes pembagian rezeki yang telah Allah SWT tetapkan. Kondisi ini membuat hati senantiasa gelisah dan sulit merasakan syukur atas nikmat yang ada di depan mata.
Selain hasad, materi khutbah juga mewaspadai virus takabur atau sombong yang sering kali muncul saat seseorang merasa memiliki kelebihan harta, jabatan, atau ilmu. Islam melarang keras perilaku membanggakan diri secara berlebihan karena segala sesuatu yang dimiliki manusia bersifat sementara. Khotib mengutip firman Allah dalam Surah Luqman ayat 18 yang melarang manusia berjalan di muka bumi dengan penuh kecongkakan karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Penyakit hati ketiga yang menjadi sorotan adalah cinta dunia yang berlebihan atau hubbud dunya. Fenomena ini muncul ketika materi menjadi tujuan utama hidup sehingga seseorang berani menghalalkan segala cara untuk memuaskan syahwat duniawi. Khutbah tersebut mengingatkan bahwa ambisi yang tidak terkendali terhadap kekayaan sering kali membuat manusia lalai akan persiapan kehidupan di akhirat.
Sebagai solusi, khutbah ini menawarkan beberapa langkah pengobatan spiritual yang aplikatif. Membaca dan mentadabburi Al-Quran menjadi obat utama karena kitab suci ini berfungsi sebagai penyembuh bagi segala keresahan jiwa. Selain itu, memperbanyak dzikir dan introspeksi diri secara rutin dapat membantu membersihkan noda-noda hitam di dalam hati.
Khotib mengajak jamaah untuk meneladani sikap rendah hati dan selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia agar rasa syukur terus tumbuh. Penguatan iman melalui pemahaman bahwa semua nikmat berasal dari Sang Pencipta akan menjadi perisai kuat dalam menghadapi godaan materi di era modern. Dengan menjaga hati tetap bersih, seseorang akan lebih mudah menjalani kehidupan yang harmonis, baik dengan Tuhan maupun sesama manusia. Masyarakat diharapkan terus memperbarui kualitas ibadah dan memantau informasi keagamaan terbaru untuk memperkokoh ketahanan spiritual keluarga.
