Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, BANTEN – Kemarau panjang yang menyebabkan ratusan hektare sawah di Kabupaten Lebak mengering memaksa para petani untuk mencari mata pencarian lain, Minggu (6/9/2026).
Setelah panen, mereka tidak dapat mengolah lahan kembali sehingga harus beralih profesi agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi. Kondisi ini mempengaruhi setidaknya 250 petani di Desa Tambakbaya, Kecamatan Lebak, dan 150 anggota kelompok tani di Rangkasbitung. Banyak dari mereka kini menyebar ke berbagai wilayah untuk mencari pekerjaan.
Kekeringan Melanda, Petani Lebak Beralih Profesi
Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya, Ruhiana, melaporkan bahwa sekitar 250 petani di wilayahnya kini terpaksa mencari pekerjaan sampingan. Kekeringan parah pada lahan padi sawah usai panen menjadi pemicu utama.
“Sekitar 250 petani di sini beralih profesi karena lahan padi sawah mengalami kekeringan usai panen,” ujar Ruhiana.
Situasi serupa disampaikan oleh Udin dari Kelompok Tani Blok Central Rangkasbitung. Ia mengungkapkan, ada 150 anggotanya yang kini menganggur sebagai dampak dari kekeringan yang diakibatkan fenomena El Nino.
Ragam Pekerjaan Baru Para Petani Terdampak
Pilihan pekerjaan alternatif yang diambil para petani sangat bervariasi. Sebagian menjajal peruntungan sebagai pedagang keliling, sementara yang lain berdagang eceran di Pasar Rangkasbitung dan Pasar Semi Narimbang.
Ada pula yang memilih menjadi tukang ojek motor dan pekerja tambang pasir. Tidak sedikit petani yang memilih merantau ke luar daerah, seperti Serang, Cilegon, Merak, Tangerang, bahkan hingga Jakarta, menjadi buruh bangunan atau buruh panggul di Tanjung Priok.
“Mereka ada yang kerja keluar daerah, seperti Serang, Cilegon, Merak, Tangerang sampai Jakarta. Kalau yang masih punya cadangan pangan biasanya pilih tinggal di rumah sambil benerin alat tani,” ucap Ruhiana.
Petani asal Warunggunung, Abdulraup, adalah salah satu yang merasakan dampak nyata ini. Ia terpaksa beralih profesi menjadi pedagang bakso keliling karena sawahnya tak kunjung bisa ditanami akibat kekeringan.
“Sudah tiga minggu saya dagang bakso cuanki di Rangkasbitung. Mau tanam lagi tidak bisa, lahannya kering kerontang,” tutur Abdulraup.


