HARIAN EKPRESS, TANGERANG SELATAN— Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Perhubungan (Dishub) tengah mematangkan rencana pengoperasian moda transportasi publik baru berjuluk Jempol Trans. Bus ini dihadirkan guna memperluas jangkauan angkutan massal sekaligus mempermudah akses mobilitas warga di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Tangsel, Ahmad Arofah, menyatakan bahwa kehadiran Jempol Trans diproyeksikan menjadi sarana transportasi umum yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat lokal.

“Kami berharap keberadaan Jempol Trans ini dapat menjadi pilihan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi warga Tangerang Selatan dan sekitarnya,” ujar Arofah, Kamis (20/8/2026).
Lintasi Kawasan Padat dan Stasiun Kereta
Pemilihan rute koridor Pondok Cabe–Alam Sutera didasarkan pada hasil kajian mendalam mengingat jalurnya yang melintasi area-area strategis.
Trayek bus ini akan berawal dari Terminal Pondok Cabe, melintasi kawasan padat penduduk di Pamulang, menyambung ke Stasiun Rawa Buntu untuk integrasi moda kereta api, dan berakhir di kawasan Alam Sutera.
Masa Uji Coba dan Pembayaran Non-Tunai
Sebelum dibuka untuk operasional penuh, Jempol Trans bakal melakoni tahapan uji coba terlebih dahulu. Selama periode sosialisasi tersebut, penumpang dikenakan tarif promo flat sebesar Rp15.000 untuk sekali jalan menggunakan metode pembayaran non-tunai (cashless).
Apabila tingkat keterisian penumpang dan operasional armada telah stabil, tarif normal diperkirakan berada di angka Rp25.000 per perjalanan. Karena dikelola secara komersial oleh swasta murni tanpa sokongan subsidi pemerintah daerah—berbeda dengan JakLingko atau Transjakarta—tarif operasional penuhnya menjadi relatif lebih tinggi.
Dorong Tarif Berbasis Jarak Melalui Aplikasi
Guna memberikan keadilan tarif bagi pengguna jarak pendek, Dishub Tangsel menyarankan pihak pengelola, PT Jempol Trans, untuk mengintegrasikan sistem pembayaran berbasis aplikasi. Merekam titik tap-in dan tap-out penumpang bakal memungkinkan perhitungan ongkos disesuaikan dengan jarak tempuh per kilometer.
Arofah menilai skema flat Rp25.000 berpotensi memberatkan penumpang yang tidak naik hingga ujung rute.
“Kami ingin menawarkan, karena ini Rp 25.000 terlalu berat ya. Masa kalau misalnya dari Pondok Cabe sampai Maruga Rp 25.000, kan tidak mungkin juga. Makanya kami lagi merumuskan itu dulu,” pungkasnya.


