Senin, 07 September 2026
Hot

Pemerintah Banten Distribusikan 5.000 Dus Masker, Puskesmas Siaga 24 Jam

Warga Banten diimbau waspada terhadap abu vulkanik. Pemprov Banten telah sediakan masker dan layanan kesehatan siaga untuk atasi keluhan.

Article ad before first paragraph

Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIANEXPRESS, BANTEN – Pemerintah Provinsi Banten siapkan 5.000 dus masker dan menyiagakan puskesmas 24 jam untuk lindungi warga dari dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Senin (07/09/2026).

Untuk membantu masyarakat mengatasi dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemerintah Provinsi Banten mendistribusikan 5.000 dus masker. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti memastikan stok masker berjumlah 5.000 dus, dengan masing-masing dus berisi 50 masker, telah siap disalurkan.

“Stok masker 5.000 dus, satu dus isinya 50 dan cukup,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti.

Article ad in the middle of article

Gubernur Banten Andra Soni secara langsung memberikan perintah untuk pendistribusian masker ini kepada Kepala Dinas Kesehatan. Perintah tersebut disampaikan Gubernur Andra Soni di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Kabupaten Serang.

“Saya memerintahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk mendistribusikan 5.000 dus masker kepada pemerintah kabupaten/kota,” ujar Gubernur Banten Andra Soni di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Kabupaten Serang.

Masker menjadi penting karena abu vulkanik mengandung zat kimiawi berbahaya yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh, khususnya paru-paru dan organ pernapasan.

“Dalam abu vulkanik terdapat zat kimiawi yang membahayakan dan akan mempengaruhi metabolisme tubuh seperti paru-paru dan organ pernapasan sehingga wajib memakai masker,” jelas Ati Pramudji Hastuti.

Selain distribusi masker, seluruh puskesmas di delapan kabupaten/kota di Banten disiagakan selama 24 jam. Kesiapsiagaan ini bertujuan membantu masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan debu vulkanik.

Dampak abu vulkanik telah dirasakan oleh sebagian warga, seperti yang diungkapkan Lola Julianti. Ia mengeluhkan peningkatan jumlah debu pasca erupsi yang menyebabkan batuk, pilek, sesak napas, dan mata pedih pada anak-anak.

“Yang dirasain debunya makin banyak pasca erupsi. Banyak warga ngeluh debu. Ke anak kecil jadi batuk pilek, pernapasannya sesak, pedih ke mata,” kata Lola Julianti.

Lola Julianti sendiri memilih menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah guna melindungi diri.

Pemerintah Provinsi Banten mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau. Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan selalu memakai masker untuk meminimalkan paparan abu vulkanik.

Article ad after last paragraph