Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, BANTEN – Kemacetan parah masih terus melanda kawasan Pasar Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), menimbulkan keresahan di kalangan warga dan pengguna jalan,Kamis (3/9/2026).
Kondisi ini sering terjadi pada jam sibuk pagi dan sore hari, membuat perjalanan yang seharusnya singkat terasa sangat lama. Persoalan kemacetan ini disebut-sebut sebagai kemacetan struktural yang belum menemukan solusi permanen, melampaui sekadar volume kendaraan.
Penyebab Kemacetan yang Tak Kunjung Usai
Salah satu penyebab utama kemacetan adalah keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggelar lapak hingga ke badan jalan, ditambah dengan parkir liar yang memenuhi trotoar dan ruas jalan, belum lagi angkot yang berhenti sembarangan menambah kesembrautan, hingga perilaku pengguna jalan yang saling menyerobot menjadi sejumlah faktor yang membuat arus lalu lintas mudah tersendat, menyempitkan jalur lalu lintas, memaksa pengendara berebut jalan.
Penertiban PKL sebenarnya sudah pernah dilakukan. Pada Maret 2016, sebanyak 260 lapak PKL di Jalan Raya Serpong pernah dibongkar oleh aparat gabungan, namun pedagang disebut kembali beroperasi di lokasi yang sama.
Dampak Perlintasan Kereta Api
Perlintasan kereta api di dekat Stasiun Serpong juga menjadi pemicu kemacetan yang signifikan.
Intensitas KRL Commuter Line yang padat membuat palang pintu kerap tertutup lama, antara 7 hingga 10 menit, menyendat kendaraan yang melintas. Selain itu, perilaku angkot yang ngetem dan pengendara yang saling serobot semakin memperparah situasi setelah kereta melintas.
Minimnya Pengawasan dan Penertiban
Warga mengeluhkan minimnya kehadiran petugas dari Satpol PP maupun Dinas Perhubungan (Dishub) yang seharusnya mengatur lalu lintas dan menertibkan PKL serta parkir liar. Akibatnya, tata ruang pasar menjadi semrawut dan tidak tertata dengan baik.
Kekhawatiran Warga dan Desakan Solusi
Kemacetan di Pasar Serpong tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius bagi pengguna jalan.
Bahaya di Perlintasan Kereta
Warga khawatir terjebak di perlintasan kereta saat intensitas KRL sedang padat, yang dapat membahayakan keselamatan.
Aldi, salah satu pengendara, menyatakan keresahannya.
“Setiap pagi macet, gara-gara perlintasan dan pedagang pasar yang jualan di badan jalan nih,” kata Aldi.
Usulan Solusi Jangka Panjang
Berbagai pihak telah mengusulkan solusi untuk mengatasi kemacetan ini. Pada Januari 2021, Dishub Kota Tangsel mengusulkan pembangunan flyover atau underpass di kawasan tersebut sebagai solusi permanen. KemudianPemerintah Kota (Pemkot) Tangsel juga berencana menata ulang Pasar Serpong. Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, pada Agustus 2025, menyampaikan bahwa penataan akan dimulai September 2025 dengan merelokasi sekitar 160 PKL ke dalam area pasar. Pilar Saga Ichsan bahkan pernah menyamar sebagai pembeli untuk merasakan langsung kondisi kemacetan dan kekumuhan di kawasan itu.
Meskipun upaya penataan terus dilakukan, seperti yang dicanangkan untuk September 2025, kemacetan di Pasar Serpong pada awal September 2026 masih menjadi masalah yang belum terurai. Warga berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan perhatian khusus dan merealisasikan solusi konkret demi kemajuan dan kenyamanan masyarakat Tangerang Selatan.


