Minggu, 06 September 2026
Hot

Cagar Budaya Kramat Tajug Atif Siap Jadi Destinasi Wisata Religi Tangsel

Kramat Tajug Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa di Tangsel resmi jadi Cagar Budaya. Yayasan berencana menata sebagai destinasi wisata religi dan bangun UMKM.

Article ad before first paragraph

Tubagus Soleh
Penulis
|
Ipnu Subroto
Editor

HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Kramat Tajug Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan akan ditata menjadi destinasi wisata religius, Sabtu (5/9/2026).

Penetapan Kramat Tajug Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Cagar Budaya Kota Tangerang Selatan sudah berlaku. Keputusan ini menuntut seluruh warga Tangerang Selatan untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya.

Berdasarkan Keputusan Wali Kota Tangerang Selatan Nomor 030/Kep.517-Huk/2019, Kramat Tajug kini resmi menjadi milik seluruh rakyat Indonesia, khususnya Kota Tangsel, bukan hanya keluarga atau keturunan beliau.

Article ad in the middle of article

Ketua Yayasan Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa, Tubagus Imamudin, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel. Apresiasi tersebut khususnya ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mengawal proses penetapan cagar budaya ini.

“Seluruh keluarga besar keturunan Tubagus Muhammad Atif mengucapkan terimakasih kepada Pemkot Tangsel khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mengawal proses dari awal sampai ditetapkan Kramat Tajug Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Cagar Budaya,” ujar Tubagus Imamudin (Ketua Yayasan Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa) kepada Tubagus Soleh dari Harian Express Tangsel.

Penetapan ini diakui sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa dan kiprah Tubagus Muhammad Atif. Jasanya penting dalam syiar Islam di wilayah Serpong dan sekitarnya.

Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa juga dikenal dengan sebutan Raden Wetan. Sebutan ini diberikan karena beliau diperintahkan oleh ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa Banten, untuk pindah ke daerah Wetan, yang sekarang dikenal sebagai Serpong.

Beliau datang ke Serpong didampingi tujuh pengawal khusus Kesultanan Banten. Para pengawal tersebut adalah Mbah Syukur, Mbah Panca Baya, Mbah Memple, Mbah Usam, Mbah item, Mbah Kerta, dan Mbah Kerti.

Mbah Kerta dan Mbah Kerti memiliki tugas khusus dalam administrasi serta pengembangan pertanian di Serpong. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, sektor pertanian sangat maju dan terkenal dengan teknologi irigasinya.

Kemajuan pertanian ini juga terlihat di Serpong, lokasi utama syiar Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa.

Ketika Harian Express Tangerang Selatan menanyakan apa prioritas yang akan dilakukan oleh Pengurus Yayasan Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa. Dengan lugas Tubagus Imamudin menguraikan beberapa hal.

Pertama, akan dilakukan penataan internal (Revitalisasi Total), termasuk perawatan dan pelestarian Kramat Tajug sebagai destinasi kebudayaan di Tangsel.

Kedua, dalam jangka menengah, yayasan akan mengusulkan pembangunan museum Sejarah Dakwah Islam Muhammad Atif. Museum ini juga akan menceritakan perjuangan rakyat Tangsel melawan penjajah.

Ketiga, untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, yayasan berencana membangun sentra UMKM. Sentra UMKM ini akan berlokasi di lingkungan Kramat Tajug.

Penataan ekonomi melalui sentra UMKM ini menjadi wujud nyata kontribusi positif. Kontribusi tersebut diharapkan mendukung keberadaan syiar Tubagus Muhammad Atif bin Sultan Ageng Tirtayasa di Serpong dan Kota Tangsel.

Article ad after last paragraph