Rabu, 02 September 2026
Hot

Polisi Selidiki Pembuang Sampah di TPA Liar Waringinkurung yang Terbakar

Kebakaran TPA liar Waringinkurung di Serang, Banten, belum padam. Polisi sedang menyelidiki dugaan adanya oknum yang membuang sampah ilegal di lokasi yang sudah ditutup sejak 2025 ini.

Article ad before first paragraph

Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor

Polisi Selidiki Pembuangan Sampah Ilegal di TPA Waringinkurung yang Terbakar

HARIANEXPRESS, BANTEN – Kebakaran di tempat pembuangan sampah Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, hingga malam, masih belum sepenuhnya padam, Minggu (30/8/2026).

Polisi kini tengah menyelidiki dugaan adanya oknum yang sengaja membuang sampah di lokasi tersebut, padahal TPA ini telah ditutup sejak tahun 2025.

Peristiwa kebakaran ini pertama kali diketahui warga pada Jumat (28/8) sekitar pukul 18.00 WIB, ketika api terlihat menyala di Kampung Pranje, Desa Waringinkurung. Akibat asap yang menyengat, warga sekitar mulai mengeluhkan sesak napas.

Article ad in the middle of article

Dugaan Aktivitas Ilegal

Kapolsek Waringinkurung, Iptu Hari Purwanto, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menindaklanjuti kasus kebakaran ini. Penyelidikan dilakukan karena ada kekhawatiran terkait oknum yang masih membuang sampah di lokasi tersebut atau bahkan mengomersilkannya.

“Ini sedang kami tindak lanjuti, karena perintah pimpinan pun silakan diselidiki. Kita khawatir, setelah sudah kita tutup di tahun 2025 lalu, tapi masih ada oknum yang membuang sampah di situ. Kita juga khawatir dimanfaatkan atau dikomersilkan,” ujar Hari.

Hari juga menjelaskan bahwa lokasi TPA Waringinkurung sebelumnya merupakan lahan bekas galian bata. Lahan milik Pemkot Serang ini kemudian dijadikan TPA sementara oleh Pemkab Serang sejak tahun 2020, lantaran belum memiliki tempat pembuangan sampah.

Kronologi Penutupan TPA dan Kebakaran

Operasional TPA Waringinkurung resmi ditutup sejak tahun 2025. Penutupan ini dilakukan setelah Pemkab Serang mendapatkan izin untuk membuang sampah di TPA Cilowong.

“Pada tahun 2025 pun sudah kami menindaklanjuti bahwasanya jangan ada kegiatan pembuangan sampah di situ lagi. Nah, maka dari tahun 2025 tempat sampah itu sudah tidak beroperasi, karena Pemkab Serang sudah diizinkan untuk pindah ke (TPA) Cilowong”, jelas Hari.

Hari menambahkan, pada awal tahun 2026, Pemkab Serang dan Kota Serang telah mengadakan MoU. Kesepakatan ini memungkinkan Kabupaten Serang untuk membuang sampah di TPA Cilowong yang terletak di Gunungsari.

Sejak TPA Waringinkurung tidak beroperasi, ilalang mulai tumbuh menutupi gunungan sampah. Kebakaran yang terjadi beberapa hari lalu diduga bermula dari ilalang tersebut.

“Betul, karena kebakaran kemarin pun bermulanya dari ilalang. Begitu ilalang menyala, akhirnya sampah yang lama itu terbakar lah. Nah ternyata sampahnya itu sungguh luar biasa banyak, ya. Jadi yang terbakar saat ini bukan ilalangnya, tapi sisa sampah yang tahun-tahun lalu tertumpuk”, tutur Hari. Ia juga menyebut bahwa sampah baru yang ditemukan di lokasi tidak ikut terbakar; yang terbakar justru sampah lama yang sudah kering.

Penanganan Kebakaran dan Dampak pada Warga

Hingga Minggu (30/8/2026) malam, api besar di TPA Waringinkurung dipastikan tidak ada, namun kepulan asap masih terus terlihat. Api masih berada di bawah tumpukan sampah, sehingga sulit untuk dipadamkan sepenuhnya. Untuk mempercepat penanganan, petugas gabungan telah mengerahkan empat unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit alat berat. Alat berat berupa ekskavator diturunkan pada hari Minggu (30/8/2026) untuk membantu mengurai tumpukan sampah.

Sementara itu, warga sekitar yang tinggal di Kampung Cibeka, merasakan dampak langsung dari kebakaran ini. Lisna Hasbullah, salah seorang warga, menyebut bahwa api masih terlihat dari jarak sekitar 400 meter dari permukiman.

Pada Sabtu (29/8/2026), Lisna juga menyampaikan adanya letupan seperti petasan dari lokasi kebakaran. Ia mengeluhkan bau asap yang menyengat hingga ke rumahnya yang berjarak sekitar 700 meter, menyebabkan warga mengalami sesak napas.

“Ini menyala lagi, kata anak-anak seperti petasan”. Katanya kayak bunyi petasan, ujar Lisna Hasbullah. Ia juga menambahkan, bau asap menyengat membuat warga di Kampung Cibeka mengeluh sesak napas.

Article ad after last paragraph