Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIAN EXPRESS, BANTEN – Seluruh satuan pendidikan di Provinsi Banten resmi menggelar kembali Kegiatan Belajar Mengajar secara tatap muka mulai Senin ini. Kebijakan tersebut diambil setelah kualitas udara membaik pasca-letusan Gunung Anak Krakatau, Senin (14/09/2026).
Keputusan pengembalian sistem belajar luar jaringan ini secara resmi berlaku bagi seluruh tingkatan sekolah, mulai dari tingkat TK/PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, hingga Sekolah Khusus. Aturan ini wajib diikuti oleh seluruh institusi pendidikan berstatus negeri maupun swasta yang berada di wilayah Provinsi Banten, termasuk di Kota Serang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaluddin, memberikan konfirmasi langsung mengenai pencabutan skema Pembelajaran Jarak Jauh secara menyeluruh tersebut. Sebelumnya, metode belajar dari rumah itu terpaksa diterapkan sejak Senin, 7 September 2026, demi melindungi keselamatan pernapasan para murid dari ancaman abu vulkanik.
Dampak letusan dahsyat dari Gunung Anak Krakatau sebelumnya memang sempat dinilai sangat membahayakan kondisi kesehatan fisik dari seluruh siswa di kawasan terdampak. Namun, keputusan untuk menghentikan pembelajaran daring akhirnya disepakati setelah pihak dinas melakukan evaluasi mendalam bersama dengan sejumlah instansi pemerintah terkait lainnya.
Instansi yang dilibatkan dalam koordinasi intensif tersebut adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Banten. Hasil pemantauan bersama menunjukkan tingkat kebersihan udara di kawasan tersebut kini sudah jauh membaik dan berada dalam kategori aman untuk aktivitas luar ruangan.
“Mulai Senin sudah pembelajaran tatap muka. Mutu udara sudah kondusif berdasarkan hasil koordinasi kami dengan DLH dan BPBD,” ujar Jamaluddin.
Sejalan dengan langkah dari pemerintah provinsi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang, Ahmad Nuri, memastikan kesiapan penuh seluruh sekolah di daerahnya. Beliau menegaskan bahwa seluruh institusi sekolah di bawah naungannya telah siap menyelenggarakan proses belajar mengajar secara luring pada hari Senin tersebut.
“Kami meminta para guru dan kepala sekolah memastikan KBM berjalan baik. Siswa juga diimbau untuk tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” ujar Ahmad Nuri.
Meskipun aktivitas belajar di dalam ruang kelas telah berjalan normal, pihak sekolah beserta murid diwajibkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Upaya kewaspadaan ini dinilai krusial guna mengantisipasi kemungkinan adanya sisa-sisa partikel abu halus yang masih beterbangan di atmosfer lingkungan sekolah.
Langkah pencegahan preventif berupa pemakaian masker ini sangat disarankan demi memastikan kesehatan organ pernapasan para siswa tetap terjaga dengan maksimal. Dengan demikian, proses transisi kembali ke sekolah pasca-bencana letusan gunung api ini dapat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa menimbulkan dampak kesehatan baru.








