Minggu, 30 Agustus 2026
Hot

Kenapa Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi Banten?

Status Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten merupakan hasil perpaduan sejarah panjang Kesultanan Banten dan amanat Undang-Undang yang jelas.

Article ad before first paragraph

Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor

HARIAN EXPRESS, BANTEN– Status Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten merupakan hasil perpaduan sejarah panjang Kesultanan Banten dan amanat Undang-Undang yang berlaku sejak tahun 2000. (29/08/2026).

Secara historis, Kota Serang tidak dapat dilepaskan dari kejayaan Kesultanan Banten yang berkuasa di Nusantara mulai abad ke-16 hingga ke-19. Menurut catatan Pemerintah Kota Serang, Sultan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, tercatat sebagai pendiri Kesultanan Banten yang berpusat di wilayah ini.

Pusat kekuasaan kala itu berada di kawasan Banten Lama, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Jejak kejayaan masa lalu tersebut masih dapat disaksikan melalui sejumlah situs cagar budaya seperti Keraton Surosowan, Danau Tasikardi, dan Benteng Speelwijk.

Article ad in the middle of article

Keraton Surosowan sendiri mulai dibangun sekitar tahun 1526 hingga 1570 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin. Bangunan ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal para sultan Banten.

Selain faktor sejarah, penetapan Serang sebagai ibu kota provinsi juga berpijak pada dasar hukum yang jelas. Amanat pembentukannya bermula dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten.

Undang-undang tersebut menetapkan Serang sebagai ibu kota bagi provinsi yang baru terbentuk kala itu. Ketentuan ini kemudian dipertegas melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 yang disahkan pada 10 Agustus 2007, mengenai pemekaran Kota Serang dari Kabupaten Serang.

Kota Serang secara resmi lahir pada 10 Agustus 2007, dengan pelantikan penjabat wali kota dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada awal November di tahun yang sama. Wilayahnya kemudian terbagi menjadi enam kecamatan, yaitu Serang, Kasemen, Walantaka, Curug, Cipocok Jaya, dan Taktakan.

Dari sisi geografis, letak Serang dinilai strategis karena berada di jalur utama penghubung lintas Jawa dan Sumatera. Kota ini juga dilintasi oleh jalan tol Jakarta-Merak.

Posisinya yang relatif berada di tengah wilayah Banten membuat kota ini mudah dijangkau dari daerah lain seperti Tangerang, Pandeglang, dan Lebak, sehingga dianggap ideal sebagai titik sentral aktivitas pemerintahan.

Meski demikian, penetapan Serang sebagai ibu kota provinsi sempat menimbulkan perdebatan di ruang publik. Sejumlah warganet pernah mempertanyakan kesiapan infrastruktur kota ini dibandingkan daerah lain di Banten, seperti Kota Tangerang, yang secara ekonomi dinilai lebih maju.

Namun, sejumlah pengamat menilai pemilihan Serang lebih didasari oleh akar sejarah Kesultanan Banten. Faktor sejarah ini dianggap lebih penting daripada semata pertimbangan kemajuan ekonomi maupun infrastruktur yang ada saat ini.

Kini, hampir dua dekade sejak penetapannya, Serang terus bertumbuh menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, sekaligus perekonomian di Banten. Perkembangan ini tidak meninggalkan warisan budaya Kesultanan Banten yang menjadi akar identitasnya.

Article ad after last paragraph